Senin, 20 Juni 2011

Pencegahan kanker serviks bisa dilakukan melalui vaksinasi. Seberapa ampuhkah?

Di balik efeknya yang mematikan, kanker leher rahim atau serviks dapat dicegah dengan vaksinasi. Pencegahan dilakukan dengan menghambat perkembangan Human Papiloma Virus (HPV), penyebab kanker serviks. Namun seberapa efektifkah vaksin tersebut?

“Vaksin ini efektif untuk orang di usia berapapun, asalkan dia belum terinfeksi HPV. Jika tubuh sudah terinfeksi, pemberian vaksin menjadi kurang efektif,” ujar penemu vaksin HPV, Profesor Ian Frazer di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Salemba, Jakarta, Selasa, 26 April 2011.

Frazer yang berkunjung ke Indonesia 25-28 April ini mengklaim bahwa vaksin ciptaannya sangat efektif mencegah kanker serviks yang banyak membunuh wanita. Namun, bagi mereka yang aktif secara seksual, disarankan melakukan screening sebelum melakukan vaksin pencegahan.

Screening diperlukan untuk mendeteksi adanya virus penyebab serviks dalam tubuh. Jadi, jika virus sudah ada dalam tubuh, pemberian vaksin tidak akan bekerja secara efektif,” katanya.

Pria kelahiran 6 Januari 1953 ini juga menyatakan, vaksin HPV akan lebih efektif jika diberikan sejak usia anak-anak, mulai 9,5 tahun. Di usia ini, kadar antibodi masih tinggi. Pemberian vaksin diharapkan mampu melindungi wanita dari kanker hingga 20 tahun setelahnya, bahkan lebih lama lagi.

Berdasarkan penelitiannya, ada lebih 100 tipe HPV. Dan, vaksin tersebut efektif membunuh HPV tipe 16 dan 18, dengan tingkat keberhasilan mencapai 80-95 persen. Bahkan, vaksin tersebut mampu melakukan cross protection untuk menangkal tipe HPV jenis lainnya.

Tak sekadar berkunjung dan bertemu para ilmuwan dan peneliti Indonesia, Frazer berkeliling untuk berbagi pengalaman ke beberapa universitas di Jakarta dan Surabaya. Melengkapi kunjungannya, ia memutar film dokumenter 'Catching Cancer', sebagai sarana menambah wawasan seputar kanker.